Art Ecosystem: Now! Biennale Jatim 2015
06.08Halo Suroboyo! Untuk ke kesekian kalinya, arek-arek Suroboyo disuguhi pameran seni rupa dua tahunan. Namanya, Biennale Jatim 6, dengan te...
06.08
Halo Suroboyo! Untuk ke kesekian kalinya, arek-arek Suroboyo disuguhi pameran seni rupa dua tahunan. Namanya, Biennale Jatim 6, dengan tema “Arts Ecosystem: Now!”.
Pameran yang diadakan di kompleks Balai Pemuda ini menampilkan karya dari komunitas seni dan seniman Jawa Timur. Gelaran tersebut dapat dinikmati pada 6 sampai 24 November 2015.
Open art dibuka penampilan epic dari band kece Surabaya. Ciri khasnya, lirik dan lagu yang mengangkat tema surabaya dan seluk beluknya. Yo sopo manehnek guduk Silampukau! Tampaknya, mereka memang dinantikan oleh pengunjung. Apalagi, wedok-wedok sing wes stand by karo tongsis sak fish eye ne #ajursri.
Karya lintas media dan ragam kreatifitas
Pengunjung akan dimanjakan dengan lukisan plus kronologi perjalanan panjang dan besar perkembangan seni rupa modern. Daur ulang dengan memanfaatkan bahan ataupun sisa barang yang tidak digunakan menjadi kreasi yang efektif dan efisien.
Karya sing di tampilno beragam. Ada seni lukis, seni instalasi, dengan media yang tidak terpaku pada kanvas putih.
Bahkan, telonane emakmu yo isok didadikno ambient media karo poro seniman iku. Padahal kan, itu adalah alas untuk ngunceki sak motongi bawang brambang ta wortel. Utowo ngirisi kenangan hatimu sing sering nelongso. Kurang sangar opo?!
| Lukisan Malima karya Mas Dibyo. (Foto: Iwan Iwe/MakNews)
Biennale jatim 6 berkolaborasi dengan beberapa seniman, komunitas, kurator dan para penikmat seni lainnya. Karya yang ditampilkan, misalnya, dari Cak Dhanoe (berjudul Sawang Sinawang), Cak Beng Herman (Under Pressure), dan Cak Muammar Firmansyah (Awowow Vintage Tour).
Terdapat pula kreasi Cak Asri Nugroho (berupa karya lukis yang mengeksplorasi senyum khas pelawak-budayawan Cak Kartolo), Cak Agung Wibowo (Up, Now!,karya dengan hiasan awan biru serta rumah rumah yang seukuran kandang burung), serta tak ketinggalan Cak Obed (Gula itu Merah, Jenderal!).
Salah satu seniman sing tak wawancarai adalah Mas Dibyo. Pria yang berusia sekitar 50 tahun ini memiliki rambut gondrong sebahu.
Lelaki yang tampak seger buger dan murah senyum ini mengambil tema Malima(baca: mo limo) dalam lukisannya.
Malima sendiri menginterpretasikan lima godaan bagi umumnya lelaki jawa. Yakni, main (berjudi), madon (main perempuan), minum (minum yang memabukkan), madat (mengkonsumsi narkoba, ganja dan sejenisnya) dan maling (mencuri).
Mas Dibyo menjelaskan, dia membutuhkan waktu 40 hari untuk penyelesaian konsep dan persiapan karya tersebut.
Kalau dilihat-lihat, masih di kompleks Balai Pemuda, ada pameran lain dengan tema yang hampir sama dilaksanakan di sana. Pameran seni rupa itu digelar di gedung Dewan Kesenian Surabaya (DKS).
Berdasar pengamatan dan perbincangan saya dengan sejumlah seniman, secara legal formal, dua pameran ini tidak memiliki sangkut paut. Meski memang, sama-sama menampilkan karya seni.
Lebih baik dari sebelumnya
Biennale 6 kali ini diklaim lebih baik dari sebelumnya. Salah satu sebabnya, panitia membebaskan kreatifitas kreator dalam menentukan seperti apa dan bagaimana karya ditampilkan.
“Ini bukan misi pasar. Tetapi, misi budaya yang ingin ditunjukkan kepada masyarakat. Utamanya, warga Surabaya yang sudah mulai mau memahami dan mempelajari karya seni rupa. Kegiatan ini bukan sekadar persoalan komersial. Fokusnya, menitikberatkan pada upaya edukasi melalui nilai estetika karya,” kata Mas Dibyo.
Saya juga sempat mewawancarai pengunjung yang terlihat asyik berselfie ria. Orang itu mengaku bernama Bu Ninik, asli warga kota Gudeg, Yogyakarta.
“Saya alumnus ISI Yogyakarta. Namun, sudah bekerja di Surabaya sejak beberapa tahun yang lalu,” kata perempuan yang terlihat cantik alami tersebut.
Dia mengaku sudah dua kali mengunjungi pameran Biennale Jatim 6. Tepatnya, pada hari pertama dan ketiga gelaran tersebut.
Bu Ninik menuturkan, bila dibandingkan dengan dua tahun silam, Biennale tahun ini mengalami perubahan cukup signifikan. Banyak aspek yang digarap dengan lebih matang.
Misalnya, dari segi penataan, estetika atau keindahan, lokasi penyelenggaraan pameran, dan lain sebagainya. Di sisi lain, jika dibandingkan dengan Biennale Jogja, tambah dia, ada konsep yang jauh berbeda.
“Biennale di Jogja dua tahun yang lalu menampilkan satu komunitas warga yang berkarya seni. Sedangkan Biennale yang sebelumnya lagi, menampilkan karya seniman-seniman Jogja berupa audio, visual, dan gerak,” tandasnya.
(By : Nindi Widiara with edited)
|