Everything you Need to Plan Your 2016 Business Strategy
21.30End-of-Year Srikandi Project Gathering! Sunday, 20th Dec 2015 1 pm - 5 pm At Cervisia Cafe Manyar Rejo 9 1. Business Sharing ...
21.30
End-of-Year Srikandi Project Gathering! Sunday, 20th Dec 2015 1 pm - 5 pm At Cervisia Cafe Manyar Rejo 9 1. Business Sharing ...

PANTIES PIZZA SURABAYA Lokasi Panties Pizza ada di Klampis Jaya, sebelah De mandailing pas. Actually, ini nama kerennya adalah Calz...
Keindahan panorama wisata paralayang Kota Wisata Batu bisa kita rasakan saat kita mulai menjejakan kaki dijalan setapak menuju l...
Suroboyo nyel, nyel nyel nyel! Tagline yang singkat namun mewakili identitas kesurabayaan. Event Suroboyo Nyel! memang telah selesai (2...
Saat ini pangsit mie sudah banyak beragam olahan dan inovasi. Seperti warung yang terletak di jalan Penjaringan ini menjual pangs...
![]() |
| Pangsit Mie Super Keju |
Halo Suroboyo! Untuk ke kesekian kalinya, arek-arek Suroboyo disuguhi pameran seni rupa dua tahunan. Namanya, Biennale Jatim 6, dengan te...
| Lukisan Malima karya Mas Dibyo. (Foto: Iwan Iwe/MakNews)
Biennale jatim 6 berkolaborasi dengan beberapa seniman, komunitas, kurator dan para penikmat seni lainnya. Karya yang ditampilkan, misalnya, dari Cak Dhanoe (berjudul Sawang Sinawang), Cak Beng Herman (Under Pressure), dan Cak Muammar Firmansyah (Awowow Vintage Tour).
Terdapat pula kreasi Cak Asri Nugroho (berupa karya lukis yang mengeksplorasi senyum khas pelawak-budayawan Cak Kartolo), Cak Agung Wibowo (Up, Now!,karya dengan hiasan awan biru serta rumah rumah yang seukuran kandang burung), serta tak ketinggalan Cak Obed (Gula itu Merah, Jenderal!).
Salah satu seniman sing tak wawancarai adalah Mas Dibyo. Pria yang berusia sekitar 50 tahun ini memiliki rambut gondrong sebahu.
Lelaki yang tampak seger buger dan murah senyum ini mengambil tema Malima(baca: mo limo) dalam lukisannya.
Malima sendiri menginterpretasikan lima godaan bagi umumnya lelaki jawa. Yakni, main (berjudi), madon (main perempuan), minum (minum yang memabukkan), madat (mengkonsumsi narkoba, ganja dan sejenisnya) dan maling (mencuri).
Mas Dibyo menjelaskan, dia membutuhkan waktu 40 hari untuk penyelesaian konsep dan persiapan karya tersebut.
Kalau dilihat-lihat, masih di kompleks Balai Pemuda, ada pameran lain dengan tema yang hampir sama dilaksanakan di sana. Pameran seni rupa itu digelar di gedung Dewan Kesenian Surabaya (DKS).
Berdasar pengamatan dan perbincangan saya dengan sejumlah seniman, secara legal formal, dua pameran ini tidak memiliki sangkut paut. Meski memang, sama-sama menampilkan karya seni.
Lebih baik dari sebelumnya
Biennale 6 kali ini diklaim lebih baik dari sebelumnya. Salah satu sebabnya, panitia membebaskan kreatifitas kreator dalam menentukan seperti apa dan bagaimana karya ditampilkan.
“Ini bukan misi pasar. Tetapi, misi budaya yang ingin ditunjukkan kepada masyarakat. Utamanya, warga Surabaya yang sudah mulai mau memahami dan mempelajari karya seni rupa. Kegiatan ini bukan sekadar persoalan komersial. Fokusnya, menitikberatkan pada upaya edukasi melalui nilai estetika karya,” kata Mas Dibyo.
Saya juga sempat mewawancarai pengunjung yang terlihat asyik berselfie ria. Orang itu mengaku bernama Bu Ninik, asli warga kota Gudeg, Yogyakarta.
“Saya alumnus ISI Yogyakarta. Namun, sudah bekerja di Surabaya sejak beberapa tahun yang lalu,” kata perempuan yang terlihat cantik alami tersebut.
Dia mengaku sudah dua kali mengunjungi pameran Biennale Jatim 6. Tepatnya, pada hari pertama dan ketiga gelaran tersebut.
Bu Ninik menuturkan, bila dibandingkan dengan dua tahun silam, Biennale tahun ini mengalami perubahan cukup signifikan. Banyak aspek yang digarap dengan lebih matang.
Misalnya, dari segi penataan, estetika atau keindahan, lokasi penyelenggaraan pameran, dan lain sebagainya. Di sisi lain, jika dibandingkan dengan Biennale Jogja, tambah dia, ada konsep yang jauh berbeda.
“Biennale di Jogja dua tahun yang lalu menampilkan satu komunitas warga yang berkarya seni. Sedangkan Biennale yang sebelumnya lagi, menampilkan karya seniman-seniman Jogja berupa audio, visual, dan gerak,” tandasnya.
(By : Nindi Widiara with edited)
|
Carpentier Kitchen Orang Surabaya doyan kuliner? Oya jelas! Fashionable? Hmm.. Not really. Orang Surabaya lebih ikhlas keluar duit makan d...
Berawal dari eksperimen dan keinginannya untuk berbisnis, owner Be waffle yang sekaligus ibu rumah tangga ini menciptakan sebuah ...
Mau Kemanaa adalah sebuah blog yang akan memberikan kalian panduan serta informasi seputar recommended places dan event di berbagai sudut kota Surabaya. Masih bingung mau kemanaa? Cari tahu di Mau Kemanaa.